Pendidikan dalam Perjalanan Waktu

Maret 31, 2008 yayusetia

Sejarah Pendidikan

Ketika orang berbicara masalah pendidikan maka yang terpikir adalah masalah teory pendidikan itu sendiri, methodenya, administratisinya, atau problem-problem didalamnya. Hal tersebut tentunya menjadi porsi para ahli dibidangnya. Sebagai orang awam yang bisanya sekedar mengamati, ingin mencoba menelusuri perjalanan sejarah panjang dari pendidikan itu sendiri, baik secara formal atau non formal.

Telah dipahami oleh para pendidik bahwa misi pendidikan adalah mewariskan ilmu dari generasi ke generasi selanjutnya. Ilmu yang dimaksud antara lain: pengetahuan, tradisi, dan nilai-nilai budaya (keberadaban). Secara umum penularan ilmu tersebut telah di emban oleh orang-orang yang terbeban (concern) terhadap generasi selanjutnya. Mereka diwakili oleh orang yang punya visi kedepan, yaitu menjadikan generasi yang lebih baik dan beradab. Peradaban kuno mencatat methode penyampaian ajaran lewat tembang dan kidung, puisi ataupun juga cerita sederhana yang biasanya tentang kepahlawanan.

Socrates (400 SM) menekankan prinsip-prinsip universal dalam pengajarannya melalui kebenaran, keindahan, dan kebaikan secara umum, dan diajarkan melibatkan kesadaran anak didiknya. Plato sebagai murid Socrates melanjutkan prinsip ini dan juga menjadi orang pertama mendirikan sekolahan secara institusional (Academy). Plato juga tokoh matematika fanatik, sampai-sampai menulis kalimat ‘Let no one ignorant of mathemathics enter here’ dipintu gerbang sekolahannya. Aristoteles sebagai murid Plato mengembangkan prinsip rasional dimana hal ini adalah penting dalam pendidikan. Melalui prinsip ini manusia bisa melihat phenomena alam dan memahami hukum-hukum alam. Alasan lain adalah untuk dapat menangkis pendapat para ekstremis yang cenderung tidak rasional.

Secara institusional Yunani (tepatnya Yunani utara) bisa dibilang lebih maju berpikir. Karena menjadikan pendidikan sarana untuk mempersiapkan generasi muda menjadi calon pemimpin dibidang pemerintahan atau masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut mereka menekankan pengajaran dibidang seni, beberapa cabang filsafat, pertanian, pengembangan creativitas dan juga kesegaran jasmani. Walaupun kemudian ada pergeseran arah dikemudian hari, Plutarach lebih melihat bahwa pendidikan bagi orang dewasa adalah lebih penting dari pada anak-anak. Isocrates meletakkan dasar prinsip-prinsip kepemimpinan, yang kemudian ajarannya sangat mempengaruhi pendidikan di Romawi.

Lain lagi dengan apa yang dilakukan orang Romawi abad pertama, mereka lebih mementingkan keorganisasian. Sehingga pelajaran pidato, penguasaan masa, pengembangan kebribadian dianggap paling penting pada jaman itu. Mulailah pelajaran bahasa menjadi popular bersamaan dengan system organisasi yang lebih baik, keteknikan lebih maju. Arus informasi tentunya lebih maju dengan baiknya pengorganisasian. Quintilian patut dicatat sebagai pendidik yang mulai melihat perlunya pemilahan pendidikan berdasarkan perkembangan mental muridnya. Methode yang diterapkan di Romawi ternyata cukup baik bagi upaya Romawi menjadi penguasa tunggal saat itu. Pendidikan dijadikan alat kekuasaan dan memperlebar daerah kekuasaan.

.

Ditemukannya alat cetak (Johanes Gutenberg) di abad 15 juga menjadi pendorong perubahan dibidang pendidikan. Hal lain yang sangat baik diabad ini adalah adanya perhatian terhadap hak perempuan untuk mendapatkan pendidikan secara formal di sekolah umum. Ditahun 1640, di London tercatat 80% wanita adalah buta huruf.

Pendidikan yang dinamis telah menghantarkan masyarakat dari tahap agraris menuju tahap industrialis. Dimana diabad 17 ilmu pengetahuan science menjadi perhatian umat. Royal society di London menjadi pelopor bagaimana mengembangkan basic ilmu pengetahuan natural. Barangkali Christ’s Hospital (di London) adalah sekolahan yang mengajarkan bidang science dengan memberi gelar menurut bidangnya untuk pertamakalinya. Francis Bacon adalah filosuf Inggris yang mengetengahkan pentingya pola pikir inductive. Dia mendorong murid untuk mengamati, meneliti, menguji, berdasarkan apasaja yang dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan termasuk didalamnya adalah panca indera dan akal-budi, dan yang kemudian baru membuat kesimpulan.

Entry Filed under: Pendidikan

Leave a Comment

Required

Required, hidden



Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

 

Maret 2008
S S R K J S M
    Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Arsip

Tulisan Terakhir

Blog Stats

Komentar Terakhir

yayusetia di My Favourite Team
Peace di My Favourite Team
filomeno di My Favourite Team
hanif di Hati-hati Kolesterol tak lagi …
Mr WordPress di Hello world!